Bercocok Tanam Kangkung (Ipomoea reptans) dengan Teknologi EMP


Varietas Kangkung
Beberapa contoh varietas kangkung adalah sebagai berikut: 
  1. Kangkung Grand, ciri-ciri kangkung grand adalah pertumbuhan tanaman tegak, seragam, dan tidak menjalar, dengan tinggi tanaman antara 20 - 30 cm. Bentuk daun lonjong dan lebar, warna daun dan batang hijau. Tinggi tanaman antara 20 -30 cm. Tanaman sudah bisa dipanen pada umur 25 - 30 HST. Potensi produksi 20 -25 ton/hektar;
  2. Kangkung Bangkok LP-1, pertumbuhan tanaman tegak dan seragam. Bentuk daun lonjong lebar dengan ujung yang lancip, warna daun dan batang hijau. Tanaman sudah dapat dipanen pada umur 25 - 30 HST. Potensi produksi 25 - 30 ton/hektar
  3. Kangkung Bisi, pertumbuhan tanaman tegak, seragam, dan mudah tumbuh, dengan tinggi tanaman antara 20 - 30 cm. Bentuk daun lonjong lebar dan lancip di ujungnya, warna daun dan batang hijau. Keistimewaan kangkung ini memiliki tekstur batang yang renyah. Tanaman kangkung varietas ini sudah dapat dipanen pada umur antara 25 - 30 HST. Potensi produksi 20 - 25 ton per kektar
  4. Kangkung Serimpi, pertumbuhan tanaman tegak dan seragam tinggi tanaman antara 20 - 30 cm., dengan Bentuk daun seperti daun bambu dan bertangkai panjang, warna daun dan batang hijau tua. Rasanya manis dan renyah. Tanaman kangkung varietas ini sudah dapat dipanen pada umur antara 20 -30 HST. Potensi produksi 25 - 27 ton per hektar.
Syarat Tumbuh
Tipe tanah lempung sampai lempung berpasir, gembur dan mengandung bahan organik, dengan pH tanah optimum 5,5 - 6,5. Kangkung dapat hidup dengan baik pada tanah dengan ketinggian 50 - 500 m di atas permukaan laut (dpl), lokasi terbuka, dan memperoleh sinar matahari langsung. Namun demikian kangkung juga bisa ditanam di tanah rawa yang drainase airnya tidak lancar. 

Penyiapan Lahan
Hal-hal yang harus dilakukan antara lain, dengan membersihkan lahan dari rumput, gulma dan sisa tanaman dari periode tanam sebelumnya. Bila pH tanah kurang dari 4,5, lakukan pengapuran lahan dengan menggunakan minimum 1 ton kapur pertanian per hektar, taburkan kapur secara merata ke seluruh areal penanaman. Kemudian bajak atau cangkul lahan untuk membalik dan memecah agregat tanah. Buat bedengan dengan lebar 110 cm dan tinggi 20 - 25 cm serta selokan selebar 40 cm. Setelah lahan selesai dibajak dan dibuat bedengan, semprotkan secara merata EMP I dengan dosis 1,5 liter Agrobost per 300 liter air per hektar ke seluruh permukaan bedengan. Pada saat penyemprotan EMP I, sebaiknya kondisi tanah bedengan dalam keadaan lembab. Minimum tiga hari setelah penyemprotan EMP I, lakukan pemupukan dasar dengan standar dosis per hektar sebagai berikut: a) pupuk kandang dengan dosis 3 ton/ha; b) Urea 50 kg/ha; c) SP-36 100 kg/ha dan d) KCL 75 kg/ha. Kemudian sebar pupuk kandang secara merata ke seluruh permukaan bedengan. Selanjutnya aduk-aduk ke dalam tanah sambil menggemburkan permukaan bedengan. Campur ketiga macam pupuk kimia (urea, SP-36 dan KCL), lalu tebar segera pupuk secara merata ke seluruh permukaan bedengan. Lakukan sekali lagi pengadukan pupuk ke dalam tanah sambil lebih menggemburkan agregat tanah. Kemudian ratakan permukaan bedengan dengan menggunakan cangkul atau bilah bambu. 

Penanaman
Benih yang diperlukan sebanyak 8 - 8,5/ha. Pada saat benih mau ditanam, lakukan penyiraman atau pengairan lahan hingga kondisi bedengan lembab. Buat alur-alur penanaman melintang di permukaan bedengan dengan menggunakan sebilah bambu atau kayu yang dibuat lancip di bagian ujungnya. Kedalaman alur 1,5 - 2 cm, jarak antar alur 15 - 17 cm. Tanam benih di alur yang sudah dibuat. Dengan cara menebar benih di lubang alur dengan kerapatan rata-rata 3 - 4 benih per 1 cm panjang alur. Timbun alur penanaman dengan tanah tipis (0,5 cm). Idealnya penimbunan alur penanaman menggunakan campuran tanah dan sekam padi dengan perbandingan 2:1. Sebelum benih tumbuh, perlu dilakukan pengairan lahan dengan sistem leb (pengairan lewat selokan). Jika pengairan dengan sistem leb tidak memungkinkan, siram lahan menggunakan gembor yang percikan airnya halus agar benih tidak berantakan. 

Pemupukan Susulan
Pemupukan susulan dilakukan pada saat tanaman berumur 10 hari setelah tanam (HST). Lakukan penyemprotan EMP II ke permukaan tanah di antara alur penanaman, dengan dosis 1,5 liter Agrobost per 300 liter air untuk lahan 1 hektar. Pada umur 15 HST, lakukan pemupukan kimia susulan dengan dosis Urea 200 kg/ha dan KCL 75 kg/ha. Campurkan ke dua jenis pupuk kimia tersebut, lalu dialurkan di antara baris tanaman. Lalu tutup kembali alur pupuk dengan tanah. Perlu diperhatikan bahwa pada saat penyemprotan EMP tidak boleh dilaksanakan bersamaan atau dicampur dengan pupuk kimia atau pestisida. Beri jeda waktu minimum 3 hari. Pada saat penggunaan baik EMP maupun pupuk kimia, sebaiknya tanah dalam kondisi lembab.

Pemeliharaan Tanaman dilakukan dengan cara:
  1. Penjarangan tanaman bertujuan untuk menghasilkan kangkung dengan vigor kekar dan daun-daun yang lebar, sehingga lebih menarik dan daya tahan kesegaran relatif lebih lama. Penjarangan tanaman dilakukan jika pertumbuhan terlalu rapat, dan bila pertumbuhan tanaman terlalu rapat, maka tanaman cenderung tumbuh tinggi dengan diameter batang dan lebar daun yang terlalu kecil (etiolasi). Usahakan kerapatan tanaman sekitar 1 - 2 tanaman per 1 cm panjang alur penanaman. Jika tanaman harus dijarangkan, lakukan sebelum pemupukan kimia susulan, yakni sebelum tanaman berumur 10 - 15 HST. Caranya dengan mencabut tanaman yang paling kecil di antara rumpun tanaman di alur-alur yang tampak terlalu rapat
  2. Pendangiran bertujuan untuk memperbaiki porositas tanah dan kegemburan agregat tanah agar tanaman bisa tumbuh dengan semburna. Biasanya pendangiran dilakukan menggunakan kored, semacam cangkul kecil dengan lebar 8 - 10 cm. Lakukan pendangiran tanah di antara alur penanaman saat tanaman berumur 10 - 15 HST atau setelah penjarangan tanaman
  3. Penyiangan bertujuan untuk mencegah terjadinya perebutan unsur hara di dalam tanah antara kangkung dan gulma. Selain itu kegiatan ini juga untuk menekan perkembangan hama dan penyakit tanaman. Lakukan penyiangan pada umur 10 -15 HST bersamaan dengan pendangiran
  4. Pengairan tanaman kangkung sangat diperlukan karena umur panen kangkung sangat singkat, yakni 20 - 30 HST. Oleh karena itu optimalkan pengairan selama masa pertumbuhan tanaman. Pada awal penanaman (sebelum benih tumbuh), lakukan pengairan dengan sistem leb, namun bila pengairan dengan sistem leb tidak memungkinkan, lakukan penyiraman dengan menggunakan gembor yang pancaran airnya halus agar benih yang tertanam tidak berantakan. Setelah benih tumbuh dan tanaman sudah kuat, lakukan penyiraman atau pengairan seperti biasa secara rutin agar kelembaban tanah stabil. Penggunaan EMP dan pemupukan akan menunjukkan respon yang optimal jika kelembaban tanah stabil selama pertumbuhan tanaman.

Penulis : Wiwiek Hidajati, Penyuluh Pertanian Madya; email: wiwiekhidajati@yahoo.co.id
Sumber : Petunjuk Praktis Bertanam Sayuran Lebih Menguntungkan Dengan Teknologi EMP. Oleh: Ir. Wahyudi