Home » , , , , , , » BP4K : Pembuatan Pellet Ikan

BP4K : Pembuatan Pellet Ikan

Pelet ikan - Infone Wong Tani
sumber gambar :  tegal-mina.blogspot.com & BP4K bogor
sumber Tulisan : BP4K Bogor


I. PENDAHULUAN

Dalam pemeliharaan ikan tentu tidak akan terpisah dengan yang namanya pakan ikan/pellet yang memiliki manfaat untuk pertumbuhan, karena faktor inilah yang paling menentukan perkembangan optimalisasi produksi ikan yang dipelihara.


Makanan ikan  sering menjadi permasalahan krusial yang selalu diutarakan pembudidaya ikan kepada penyuluh saat pertemuan kelompok, karena para pembudidaya telah menyadari bahwa masalah ini yang menjadi kebutuhan pokok dalam usaha perikanan. Walaupun kenyataan dilapangan banyak ditemui kelompok pembudidaya pembesar sering menghentikan usahanya karena tidak tahan terhadap harga pakan yang semakin hari semakin mahal.

Pengembangan usaha perikanan secara berangsur-angsur berubah dari sistem tradisional menuju sistem pengelolaan secara intensif. Perubahan sistem pengelolaan tersebut ditandai dengan penerapan paket-paket teknologi, agar optimalisasi pengembanganan usaha dapat tercapai.  Walaupun komponen yang paling tergolong menentukan keberhasilan secara ekonomis adalah pengelolaan pakan.

Negara-negara maju telah menerapkan teknologi tinggi dalam usaha perikanan sehingga industri pembuatan pakan ikan telah berkembang pesat. Bagi pembudidaya ikan yang berminat untuk mengembangkan usaha pembesarannya dan dapat membandingkan berapa keuntungan ikan yang menggunakan pellet buatan dengan yang tidak menggunakan pellet.

Berhubung bahan baku sebagai bahan alternatif disekitar lingkungan sering tersedia tanpa disadari pembudidaya ikan, maka perlunya informasi teknologi pembuatan pellet agar kualitas pakan buatan ini tidak kalah kualitasnya dari hasil buatan pabrik

II. BAHAN DAN ALAT

A.   BAHAN

Bahan pembuatan pakan ikan dapat digolongkan menjadi dua kelompok yaitu : bahan baku dan bahan tambahan (bahan pelengkap). Bahan Baku pembuatan pakan ikan meliputi :

1. Dedak halus (Bekatul)

Dedak halus merupakan produk samping penggilingan gabah (rice mill). Dedak halus ini dalam pembuatan pakan ikan digunakan sebagai sumber karbohidrat.

2. Tepung Ikan

Tepung ikan dibuat dari ikan rucah yang dikeringkan dan digiling halus. Kualitas tepung ikan sangat tergantung pada kualitas dan jenis ikan sebagai bahan utamanya. Tepung ikan dapat dibuat sendiri atau dibeli langsung dari pabrik atau distributor dan kios pengecer.Tepung ikan merupakan sumber protein hewani.

3. Bungkil Kelapa

Bungkil kedelai dapat dibeli langsung dari bahan industri tahu atau membeli dikios pengecer dan distributor pakan ternak atau pakan ikan. Nama lain bungkil kelapa adalah ampas tahu. Bahan ini merupakan sumber protein nabati.

4. Tepung Jagung

Tepung jagung dapat dibeli langsung dari kios pengecer pakan ternak, distributor atau membuat sendiri dengan  cara menggiling butiran jagung utuh (jagung pipilan).  Tepung jagung merupakan sumber karbohidrat dan sedikit protein.

5. Tepung Kepala Udang

Tepung kepala udang dapat dibuat dari kepala udang kering yang dihaluskan atau dibuat tepung.  Bahan ini digunakan sebagai atraktan (perangsang) atau penyedap atau aroma (bau). Dalam komposisi pakan ikan, tepung kepala udang dibutuhkan sebagai sumber mineral.

6. Minyak ikan

Minyak ikan merupakan sumber lemak dan sekaligus berfungsi sebagai atraktan (bahan penyedap aroma pakan ikan).  Bahan ini lebih mudah diperoleh dengan cara membeli dari kios-kios khusus.  Minyak ikan, disamping sebagai sumber lemak hewani, merupakan sumber vitamin A yang sangat dibutuhkan ikan.

7. Sumber vitamin dan mineral

Beberapa jenis vitamin dan mineral dapat dibeli dari toko obat, toko makanan atau kios pengecer yang menyediakannya.  Beberapa sumber mineral dan vitamin buatan industri (pabrik) biasanya telah diberi pengawet atau pelindung dari kerusakan alamiah. Bahan pakan ikan dapat juga ditambah antioksidan yang berfungsi sebagai pengawet

B.  ALAT

Alat pembuatan pakan ikan serba guna adalan CPM (California Pellet Mill) yang telah banyak dijual.  Namun, alat ini kurang dikenal masyarakat karena tidak mudah untuk memperolehnya dan harganya pun cukup mahal. Oleh karena itu, pembuatan pellet ikan yg orang disajikan dalam buku ini sengaja menggunakan peralatan yang sederhana, praktis, dan murah.

Peralatan pembuatan pakan ini dapat dirinci menurut kapasitas dan efektivitas operasionalnya.  Pembuatan pakan ikan dalam jumlah banyak membutuhkan peralatan berupa gilingan  (gilingan daging), cangkul, tenggok, serok, mikxer, ayakan, diesel penggerak (mesin diesel) dan karung plastik (karung goni).

Gilingan
Gilingan Pelet Ikan - Infone wong Tani
Gilingan untuk membuat pakan ikan dapat dibuat dengan memodifikasi gilingan daging  atau gilingan gethuk (jenis makanan dari ketela). Gilingan ini digunakan untuk mencetak campuran bahan baku bakan ikan menjadi bentuk pasta (pellet).


2. Tenggok

Tenggok biasanya terbuat dari bambu berbentuk kotak. Gunanya untuk wadah bahan baku pakan ikan atau penampung cetakan pellet.

Ayakan
Ayakan dibuat dari rentangan kain nylon (kain setrimin) pada papan kayu atau bambu. Alat ini berbentuk segi empat atau bulat menyerupai tampah (tambir). Gunanya untuk memisahkan bahan-bahan yang lebih halus sekaligus mencampur macam-macam komponen bahan baku.

Ayakan kain Nylon - Info wong tani
Serok atau Cangkul
Serok digunakan untuk mengambil dan mencampur bahan baku yang dituangkan atau dimasukan kedalam gilingan. Alat ini biasanya terbuat dari plastik atau lipatan lembaran seng.  Sedangkan cangkul digunakan untuk mencampur setiap bahan baku agar terbentuk adonan yang merata.

Mixer
Mixer adalah digunakan untuk mencampur komponen bahan baku pakan ikan dalam jumlah banyak. Mixer ini dapat dibeli ditoko-toko elektronik. Alat ini biasanya digunakan untuk mencampur aneka macam bahan dalam pembuatan roti. Jika alat ini dianggap mahal, pencampuran bahan baku dapat mengunakan tangan atau pengaduk lain misalnya serok dan cangkul.

Alat Penepung
Alat Penepung Pelet Ikan 

Gunanya untuk menghancurkan bahan-bahan yang masih berupa butiran besar. Jika bahan baku pakan ikan yang digunakan mudah diperoleh dalam bentuk tepung, maka tidak perlu menyediakan alat penepung ini sebab  harganya cukup mahal.




  1. Karung Plastik (karung goni)
Karung ini digunakan sebagai wadah pakan ikan yang telah dicetak berupa pellet.
  1. Timbangan
Timbangan digunakan untuk mengukur berat bahan-bahan yang digunakan untuk membuat pakan ikan. Macam timbangan yang digunakan disesuaikan menurut kapasitas pakan ikan (pellet) yang akan dibuat.  Untuk pembuatan pakan ikan dalam jumlah sedikit digunakan timbangan kecil. Sebaliknya, untuk pembuatan pellet dalam jumlah banyak digunakan timbangan besar.
  1. Mesin diesel
Mesin diesel dipakai sebagai alat penggerak gilingan pencetak pellet, terutama pada pembuatan pellet dalam jumlah yang banyak.
Gambar 4. Mesin Diesel

III. LANGKAH PEMBUATAN PAKAN IKAN
A. SELEKSI BAHAN BAKU DAN BAHAN PELENGKAP
Seluruh komponen bahan pakan ikan sebaiknya dibuat bahan baku dan bahan pelengkap yang masih baru. Bila sulit memperoleh bahan bahan yang baru, pemilihan beberapa bahan baku dapat dilakukan secara selektif.
1.   Dedak halus (bekatul)
Dedak halus (bekatul) dipilih yang masih segar dan tidak tercampur dengan potongan sekam, Bekatul harus kering dan tidak kasar. Bila bekatul digenggam terasa lembut (halus) dan gumpalannya mudah pecah berarti bekatul tersebut cukup baik. Tingkat kesegaran bekatul dapat diketahui dengan cara dicium baunya.  Bekatul segar berbau mirip beras dan tidak tercium bau apek atau berbau amoniak yang menyengat.
  1. 2. Tepung ikan
Tepung ikan sebaiknya dipilih yang berkualitas baik ciri-ciri tepung ikan yang berkualitas dapat dilihat secara langsung dengan panca indra. Tepung ikan yang baik berbau khas seperti ikan kering, warnanya kuning kecoklatan, bersih, kering dan tidak bercampur dengan kotoran lain. Tepung ikan segar tidak berbau tengik atau asam.
  1. 3. Bungkil Kedelai
Bungkil kedelai atau ampas tahu yang dibeli dipasar biasanya masih basah atau setengah basah.  Oleh karena itu, bungkil tersebut sebelum digunakan harus dikeringkan terlebih dahulu dengan cara dijemur.
  1. 4. Tepung Jagung
Tepung jagung yang baik berwarna putih atau kuning sesuai dengan warna butiran jagungnya. Baunya sedap dan terasa kering bila dipegang dengan jari tangan.
  1. 5. Tepung Kepala Udang
Segala macam jenis tepung udang kering dapat digunakan untuk komponen pembuatan pakan ikan.
  1. 6. Minyak Ikan
Minyak ikan yang dijual dipasaran biasanya telah dikemas dalam kaleng atau botol, bahkan terkadang dijual dalam bentuk kapsul. Gunakanlah minyak ikan yang masih terbungkus dengan baik. Artinya selaput pembungkusnya tidak rusak atau kotor dan tidak terkontaminasi oleh debu atau bahan lain.
  1. 7. Sumber Mineral dan Vitamin
Macam-macam sumber mineral dan vitamin yang dijual dipasaran adalah akuamik, premik, garam,minreal, vitamin C,Vitamin B komplek dan lain-lain.
B.   MERAMU DAN MENCAMPUR BAHAN BAKU
Pekerjaaan meramu bahan-bahan pakan ikan adalah menyusun jumlah setiap komponen dan menimbang beratnya.  Penyusunan bahan pakan biasanya hanya diperhatikan kandungan protein dari setiap bahan untuk menentukan prakiraaan akhir kadar protein pakan.  Cara sederhana untuk menyusun formula tersebut digunakan metoda kuadrat.
Gambar 5. Pencampuran Bahan Baku


Atas dasar kandungan proteinnya, bahan pakan ikan dapat dibedakan menjadi 2 macam yaitu pakan protein bassal (Energy supplemental) dan pakan protein suplemental (Protein Supplemental). Pakan protein basal adalah bahan pakan, baik hewani maupun nabati yang kandungan proteinnya dibawah 20 %, Sedangkan pakan protein suplemen adalah bahan pakan ikan yang kandungan proteinnya diatas 20 %.
Contoh penerapan metode penyusunan formula pakan ikan adalah  sebagai berikut :
Misalnya untuk membuat pakan ikan dengan kadar protein sekitar 25 % yang disusun dari komponen bahan-bahan baku berupa dedak halus (bekatul) dan tepung ikan, maka jumlah setiap komponen dapat dihitung dengan rumus/metoda kuadrat.
Dedak halus umumnya mengandung kadar protein antara 10%-16%, Sedangkan tepung ikan mengandung bahan protein antara 50% - 60%, Jika rata-rata kadar protein dedak halus dan tepung ikan masing-masing adalah 13% dan 55%, maka perhitungan adalah sebagai  berikut :
- Protein Bassal (dedak halus)       :  13 %
- Protein Suplemen (tepung ikan)    :  55 %
- Protein pakan yang dikehendaki    :  25 %
Jumlah dedak halus dan tepung ikan yang dibutuhkan dihitung menurut selisih persentase kandungan protein yang dikehendaki. Dengan demikian dapat dijabarkan sebagai berikut :
Dengan bantuan perhitungan diatas dapatlah ditentukan jumlah tiap-tiap komponen yang diutuhkan adalah sebagai       berikut :
Dedak halus    = (30 :  42)  x 100%    = 71,43%
Tepung ikan    = (12 : 42)  x 100%     = 28,57%
Jadi untuk membuat pakan ikan sebanyak 5 Kg dengan kandungan protein 25% membutuhkan dedak halus sebnyak 71,43% x 5 = 3.6 Kg dan tepung ikan sebanyak  28,57% x 5 =   1,43 Kg.
Penyusunan formulasi untuk pakan ikan yang mengandung lebih dari 2 komponen bahan baku dan bahan tambahan sebagai berikut : misalnya untuk membuat pakan ikan dengan kadar protein 25% yang disusun dari bahan baku berupa dedak halus, tepung ikan, bungkil kelapa (ampas tahu), dan bahan tambahan berupa tepung jagung dan tepung kepala udang.
Dengan menggunakan metoda perhitungan seperti diatas, maka dapat dirinci menurut jumlah setiap komponen.
Rata-rata kandungan (kadar) protein pada dedak halus dan tepung jagung masing-masing adalah 13 % dan 11%. Sedangkan tepung ikan, bungkil kedelai, dan tepung kepala udang masing-masing mengandung kadar protein sekitar 55%, 24% dan 50%.
Menurut formulasi diatas, maka besar protein basal adalah sebagai berikut :
13+11 = 12 %
2
Sedangkan besar protein suplemen adalah :
55 + 24  + 50 = 43%
3

Dengan cara perhitungan seperti pada contoh, maka untuk membuat pakan ikan sebanyak 10 kg dapat ditentukan jumlah komponen masing-masing sebagai berikut:
Dedak halus          :   3  Kg
Tepung jagung       :   3  Kg
Tepung ikan                 : 1,4 Kg
Bungkil kedelai       : 1,3 Kg
Kepala udang               : 1.3 Kg
Pembuatan pakan ikan tidak mutlak disusun sesuai dengan ketentuan hasil perhitungan formulasi tersebut, tetapi komponen-komponen penyusunannya tidak boleh menyimpang. Misalnya jumlah dedak halus dapat dikurangi, tetapi sebagai gantinya ditambahkan tepung jagung. Jumlah tepung jagung dikurangi dan sebagai pengggantinya ditambahkan tepung ikan atau bungkil ikan atau bungkil kedelai dan sebaliknya.
Setelah jumlah setiap  bahan ditentukan, langkah berikutnya adalah menimbang bahan-bahan tersebut. Kebutuhan bahan dalam jumlah sdeikit dapat mengggunakan timbangan dacing atau timbangan roti atau timbangan gantung. Sedangkan untuk pembuatan pakan ikan dalam jumlah banyak dapat menggunakan timbangan yang kapasitasanya lebih besar.
Bahan yang telah ditimbang dimasukan dengan ember atau tenggok dan diaduk sampai tercampur merata. Pengadukan dalam jumlah kecil cukup menggunalan tangan atau serok. Tetapi bila jumlah pakan akan dibuat banyak, pengadukan dapat menggunakan alat pengaduk atau mixer. Bila butiran tepung bahan agak kasar, maka perlu dilakukan pengayakan (diayak) untuk memisahkan butiran-butiran tepung kasar dan yang halus, sehingga bahan-bahan tersebut dapat dicampur lebih homogen (merata).
Gambar 6. Proses Pecampuran Bahan

Minyak ikan yang dicampur dengan komponen lain harus dicampur terlebih dahulu dan merata dalam tepung ikan.
Jumlah tepung ikan pencampur ini disesuaikan dengan jumlah minyak ikan yang akan digunakan. Setelah minyak ikan dicampur dengan tepung ikan secara merata, campuran ini harus dikeringkan terlebih dahulu. Setelah kering, baru dicampurkan dalam komponen bahan-bahan pembuatan pakan ikan secara keseluruhan.
  1. C. MENYIAPKAN ALAT PENCETAK
Alat pencetak pakan ikan dapat dibuat dari gilingan daging yang dimodifikasi. Alat pencetak tersebut terdiri dari atas beberapa bagian, yaitu: body (badan) gilingan, pedal putar, plat pencetak, cincin pengunci, pengunci, spiral pendorong, plat penutup, dan pegas pengatur. Bagian-bagian alat pencetak pakan ikan ini setelah proses pembuatan pakan ikan selesai biasanya dibongkar. Oleh karena itu, setiap kali akan dipakai harus dipasang atau dirangkai kembali.
Urut-urutan penyiapan alat pencetak diawali dengan membersihkan body gilingan dan bagian-bagian lain dari bekas atau sisa bahan-bahan pakan yang melekat pada saat digunakan dalam proses pembuatan sebelumnya. Kemudian spiral pendorong dipasang sekaligus dirangkaikan dengan pedal putarnya. Pada ujung depan spiral ini dipasang pula plat pencetak, lalu cincin pengunci ditutupkan dengan cara memutar serantah jarum jam. Urutan berikutnya memasang plat penutup dan pegas pengatur rentangannya.
Alat pencetak pakan ikan yang berkapasitas besar memerlukan disel motor penggerak yang disambungkan pada pedal putar. Penyambungan motor penggerak yang disambungkan pada pedal putar. Penyambungan motor penggerak dengan pedal putar menggunakan rantai atau pita kain terpal. Sebelum rangkaian alat pencetak dioperasikan, alat tersebut harus dicek (kontrol) terlebih dahulu kelengkapan dan ketepatan pemasangannya. Setelah dianggap lengkap dan siap dioperasikan, maka mulailah bahan-bahan baku pakan dituangkan melalui corong pemasukan yang terletak dibagian permukaan atas body alat pencetak.
  1. D. MENCETAK PELLET IKAN
Pencetakan pellet pakan ikan diawali dengan menuangkan bahan-bahan baku kedalam corong pemasukan alat pencetak. Pencetakan pellet pakan ikan tanpa bantuan diesel penggerak, maka begitu bahan-bahan dimasukan pedal segera diputar dengan tangan. Pencetakan pellet pakan ikan yang menggunakan diesel (motor) penggerak, maka begitu diesel dinyalakan (dihidupkan) pedal putar dengan sendirinya akan berputar.
Proses pencetakan pellet pakan ikan dapat dijelaskan sebagai berikut :
  1. Campuran bahan-bahan yang dimasukan dalam body alat pencetak     didorong oleh putaran spiral pendorong dan bergerak kearah plat pencetak.  Tetapi, karena lubang-lubang ujung luar plat tersumbat oleh plat penutup, maka gerakan bahan-bahan tersebut akan berhenti dalam rongga plat pencetak. Bila putaran spiral pendorong tetap berlangsung terus, maka partikel-partikel bahan tersebut akan memadat didalam lubang plat pencetak.  Akibat dorongan yang terus menerus , maka sampai pada batas-batas tertentu pegas pengatur (pengendali) plat penutup akan mengendor. Dengan demikian, bahan-bahan yang memadat didalam lubang plat pencetak akan mendorong keluar melalui lubang-lubang plat pencetak akan terdorong keluar melalui lubang-lubang pada plat pencetak tersebut.
  1. Ukuran cetakan pellet pakan ikan selalu sama dengan ukuran lubang pencetak. Untuk itu bila dikehendaki ukuran pellet yang  agak besar, plat pencetak yang dipasang juga harus mempunyai lubang yang besar pula, sebaliknya bila menghendaki ukuran cetakan pellet kecil, maka lubang plat pencetaknya juga harus digunakan yang kecil.
Pellet yang keluar dari mesin pencetak langsung ditampung dalam karung. Bila setiap karung telah penuh, maka segera diganti dengan karung lainnya. Pencetakan pellet dengan cara demikian tidak perlu ditambahkan air sehingga tidak perlu proses pengeringan lanjutan setelah pellet tercetak.  Bahkan semua bahan yang akan digunakan harus dikeringkan terlebih dulu. Sedangkan untuk menambah palatibilitas pellet dalam air bisa digunakan binder. Pencetakan pellet dalam keadaan kering membutuhkan tenaga pendorong yang cukup kuat. Oleh karena itu, pembuatan pellet ini sedapat mungkin menggunakan mesin diesel sebagai tenaga penggerak spiral pendorongnya.
IV. PENGUJIAN KUALITAS PAKAN IKAN
Mutu pakan ikan dapat diketahui dengan cara pengujian kualitas.  Pengujian ini dapat dilakukan dengan tiga cara : yaitu pengujian fisis, pengujian khemis (kimia), dan pengujian biologis.
A.  PENGUJIAN FISIS
Pengujian fisis ini dilakukan dengan pengukuran tingkat kehalusan bahan penyusunnya, kekerasannya dan daya tahan (palatibilitas) hasil cetakan dalam air, kehalusan bahan penyusun pellet dapat dilihat dengan mata.
Cara pengujian ini dilakukan dengan menggiling atau menghancurkan contoh pelllet yang diuji.  Alat giling penghancur yang digunakan dapat berupa  yang gilingan daging yang plat penutupnya dibuka (tidak dipasang). Kemudian, hasil gilingan tersebut bisa diamati.
Berdasarkan ukuran butiran, maka tingkat kehalusan pellet dapat dibedakan menjadi beberapa macam :
  1. Sangat halus
  1. Agar Kasar
  1. Kasar
  1. Sangat Kasar
Makin halus bahan penyusun pellet makin baik kualitasnya. Pakan ikan yang dibuat sendiri tidak perlu dilakukan uji fisis karena sejak bahan diseleksi sampai diproses telah diketahui tingkat kehalusannya.
Pengujian tingkat kepadatan (kekerasan) dapat dilakukan dengan memberi beban pada contoh (sample)  yang pellet yang akan diuji. Pemberian beban ini dilakukan dengan pemberat yang bobotnya berbeda-beda. Pellet yang diuji ditindih dengan beban pemberat paling ringan. Jika contoh pellet tidak pecah, maka perlu diulangi lagi dengan pemberat yang bobotnya lebih besar.
Demikian seterusnya, pengujian ini diulang-ulang sampai pellet yang memiliki bobot tertentu. Pellet yang baik umumnya tongkat kekerasannya (kepadatannya) berhubungan dengan tingkat kehalusannya.
Pengujian daya tahan pellet dilakukan dengan cara itu merendam contoh pellet yang akan diuji selama beberapa waktu dalam air. Tingkat daya tahan pellet dalam air diukur sejak pellet direndam sampai pellet pecah.makin lama waktu perendaman makin baik mutunya.  Pellet ikan yang baik mempunyai daya tahan dalam air minimal 10 menit. Sedangkan pellet pakan udang harus mempunyai daya tahan lebih lama lagi yaitu sekitar 20-24 jam.
B.  PENGUJIAN CHEMIS
Pengujian chemis dilakukan didalam laboratorium. Pengujian ini dimaksudkan untuk mengetahui kandungan zat-zat gizi pakan ikan. Beberapa komponen zat gizi yang perlu diketahui adalah kandungan protein, lemak, karbohidrat, lemak, karbohidrat, abu, serat kasar, dan kadar air. Pengujian khemis ini tidak perlu dilakukan sendiri, tetapi kita dapat mengirimkan contoh pellet pakan ikan yang akan diuji kelaboratorium kimia terdekat. Biasanya di Universitas-universiats ternama telah memiliki fasilitas pengujian ini.
Pellet yang baik memiliki kadar air maksimal 10 % kandungan abu dan serat kasar maksimal 5 % Sedangkan kandungan protein, lemak,dan karbohidrat tergantung pada susunan bahan bakunya.
Sebagai patokan untuk pellet pakan ikan sebaiknya kadar proteinnya lebih dari 25%, lemak 5% - 7%, dan karbohidrat                  16% - 18%.
C.  PENGUJIAN BILOGIS
Tujuan uji bilogis ini adalah untuk mengetahui besarnya pengaruh pellet terhadap pertumbuhan ikan.  Untuk memperoleh nilai uji yang akurat (tepat), pengujian ini membutuhkan waktu sekitar 2 - 3 bulan. Pakan pellet yang diuji diberikan kepada sejumlah ikan yang dipelihara dikolam. Sebelum ikan ditebarkan harus ditimbang lebih dahulu.
Demikian juga, pellet yang dijui juga harus ditimbang sebelum diberikan pada ikan. Setelah berakhir masa pengujian, ikan dipanen dan ditimbang lagi.
Nilai uji biologis diukur menurut jumlah pellet yang diberikan kepada ikan dan selisih perbedaan ukuran berat ikannya. Nilai ini disebut (FCR) yaitu perbandingan antara jumlah pellet yang diberikan sebagai makanan ikan dan selisih berat ikan saat ditebarkan dan berat ikan saat dipanen. Makin baik kualitas pelllet, maka makin kecil nilai FCR nya.
Gambar 7.  Pakan Pellet


VMACAM RAMUAN PAKAN IKAN· (PELLET)
Setiap jenis ikan mempunyai kesukaan dan cara makan yang berbeda beda. Demikiann pula,jumlah kebutuhan makan ikan juga bervariasi. Ikan-ikan yang berukuran kecil, disamping membutuhkan jumlah pakan yang relatif lebih banyak menurut ukuran fisik tubuhnya, juga memerlukan makanan yang memiliki nilai gizi yang lebih baik. Oleh karena itu pembuatan pakan dan jenis ikan perlu memperhatikan ukuran dan jenis ikan yang akan diberi pakan.
Macam bahan yang lazim digunakan sebagai ransum pakan ikan adalah dedak halus (bekatul), tepung ikan, tepung kedelai (bungkil kedelai atau ampas tahu), tepung jagung, tepung kepala udang, minyak ikan, dan bahan-bahan lain sebagai sumber vitamin dan mineral.
Penyusunan bahan-bahan tersebut selain memperhatikan persentase kadar protein yang dikehendaki juga mempertimbangkan harga setiap bahan. Berikut ini disajikan beberapa macam formula (ransum) pellet pakan ikan dan persentase kebutuhan setiap bahan penyusunannya untuk setiap jenis ikan.
Tabel 1. Macam Ransum Pellet I (100Kg) untuk ikan-ikan pemakan daging (carnivora), misal ikan lele, ikan sidat dll.
NO
Macam Makanan
Konsentrasi
(%)
Takaran
(Kg-Liter)
1.
Dedak Halus (bekatul)
50
50
2.
Tepung Ikan
10
10
3.
Bungkil Kedelai
10
10
4.
Tepung Jagung
25
25
5.
Tepung Kepala Udang
5
5
6.
Minyak Ikan
-
0,05
7.
Garam Mineral
-
0,05
8.
Vit.A+D.Plek
-
0,05
Tabel 2. Macam Ransum Pellet II (100Kg) untuk ikan-ikan pemakan segala jenis pakan (omnivora), misal ikan mas,nila dll.
No
Macam bahan
Konsentrasi
(%)
Takaran
(Kg-liter)
1.
Dedak Halus
40
40
2.
Tepung Ikan
5
5
3.
Tepung Kedelai
10
10
4,
Tepung Jagung
40
40
5.
Tepung Kepala Udang
5
5
6.
Premiks
-
0,05
7.
Vitamin B Kompleks
-
0,01
Tabel 3. Macam Ransum Pellet III (100Kg) untuk ikan-ikan pemakan segala tumbuhan (Herbivora), misal ikan karper, tawes.
No
Macam bahan
Konsentrasi
(%)
Takaran
(Kg-Ltr)
1.
Dedak Halus
40
40
2.
Tepung Ikan
15
15
3.
Bungkil Kedelai
25
25
4.
Tepung Jagung
20
20
5.
Akuamik
-
0,05
6.
Vit.C dan Vit B komplek
-
0,01
DAFTAR PUSTAKA
Darijah AS, 1988, Membuat Pellet Pakan Ikan, Kanisus,   Yogyakarta
Mujiman A, 2003  Makanan Ikan, PT. Penebar swadaya, Jakarta
Sulhi M, 2008/2009, Bahan Materi Pelatihan Manajemen Perikanan, Bogor
Jajasewaka H, 1985, Pakan Ikan (Makanan Ikan), CV. Jaya Jakarta
Sumber Tulisan : http://bp4k.bogorkab.go.id

1 comments:

Farid Pompa mengatakan...

trimakasih
http://rajapompaairmodif.blogspot.co.id/2015/11/pembenihan-ikan-lele.html